Senin, 29 April 2013

Manusia Dalam Pendidikan

I.            Pendahuluan
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam dalam kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan, menurut keyakinan kita, sejarah pembentukan masyarakat dimulai dari keluarga adam dan hawa sebagai unit terkecil dari masyarakat besar umat manusia di muka bumi ini. Dalam keluarga adam itulah telah dimulai proses kependidikan umat manusia, meskipun dalam ruang lingkup terbatas sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya.
Dasar minimal dari usaha mempertahankan hidup manusia terletak pada orientasi manusia ke arah 3 (tiga) hubungan, yaitu:
A.    Hubungan manusia dengan yang maha pencipta yaitu Tuhan sekalian alam.
B.     Hubungan dengan sesama manusia. Dalam keluarga Adam, hubungan tersebut terbatas pada hubungan antar anggota keluarga.
C.     Hubungan dengan alam sekitar yang terdiri dari berbagai unsur kehidupan, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan kekuatan alamiah yang ada.[1]
II.         Rumusan masalah
A.    Siapa manusia itu?
B.    Apakah fitrah manusia itu?
C.    Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia?
III.      Pembahasan
A.    Manusia
Menurut pandangan islam, manusia adalah makhluk Allah yang bertugas sebagai khalifah di bumi. Allah telah memberitahukan kepada malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia yang diserahi tugas menjadi khalifah, sebagaimana yang tersurat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi ini tidak terlepas dari:
1.      Akal dan perasaan
Setiap orang menyadari bahwa ia mempunyai akal dan perasaan. Akal pusatnya di otak yang digunakan untuk berpikir. Perasaan berada di hati yang digunakan untuk merasa. Kemampuan berpikir dan merasa ini merupakan nikmat Tuhan yang paling besar dan inilah yang membuat manusia lebih istimewa dan mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Allah menyuruh manusia agar menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya, karena akal merupakan alat untuk menuntut ilmu dan ilmu merupakan alat untuk mempertahankan diri dari kesulitan manusia, maka islam memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu yang lainnya.
2.      Ilmu pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh manusia melalui pengalaman, informasi, perasaan atau melalui intuisi. Ilmu pengetahuan merupakan hasil pengolahan akal dan perasaan tentang sesuatu yang telah diketahuinya.
Faktor terbesar yang membuat manusia itu mulia adalah karena ia berilmu. Ia dapat hidup senang dan tenteram karena memiliki ilmu dan menggunakan ilmunya.
3.      Kebudayaan
Di samping manusia sebagai khalifah, mereka juga termasuk makhluk paedogogik yaitu makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi untuk dididik dan mendidik. Untuk itulah jika manusia menggunakan akal pikirannya, perasaannya dan ilmu pengetahuannya maka akan timbul kebudayaan, baik berbentuk sikap, tingkah laku, cara hidup ataupun berupa benda, irama bentuk dan sebagainya.
Islam memandang manusia sebagai makhluk pendukung dan pencipta kebudayaan. Dengan akal, ilmu dan perasaan, ia membentuk kebudayaan dan sekaligus mewariskannya kepada anak dan keturunannya, kepada orang atau kelompok lain yang dapat mendukungnya.[2]
Para ulama juga berbeda pendapat dalam memahami kata Khalifah. Pertama adalah pendapat yang mengatakan bahwa manusia merupakan spesies yang menggantikan spesies lain yang pernah lebih dulu hidup di bumi. Kedua adalah mengatakan bahwa tiada makhluk lain di bumi yang di ganti manusia. Istilah khalifah bagi kelompok ini menunjuk pada sekelompok manusia yang mengganti manusia lain. Ketiga adalah menjelaska bahwa proses istikhlaf lebih penting lagi. Khalifah menurut mereka bukanlah sekedar menunjuk pada pengertian seorang mengganti atau mengikuti orang lain, namun khalifah di sini adalah khalifah Allah. Mulanya Allah, lalu datang khalifah-Nya yang berperilaku dan berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya.[3]
Di samping sebagai khalifah, mereka juga termasuk makhluk paedagogik yaitu makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Makhluk tersebut adalah manusia. Dialah yang memiliki potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah, berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai keterampilan dan kecakapan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia.
Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam pendidikan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu perlu dilakukan dalam usaha kegiatan pendidikan.teori nativis dan empiris yang dipertemukan oleh Kerchenteiner dengan teori konvergensinya, telah membuktikan bahwa manusia adalah makhluk paedagogis.[4]
B.     Fitrah Manusia
Manusia diciptakan dalam struktur yang paling sempurna di antara makhluk Allah yang lain. Struktur tersebut terdiri dari unsur jasmaniah bdan rohaniah. Dalam struktur tersebut Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, dalam pandangan islam disebut “fitrah” yang dalam pengertian etimologi mengandung arti “kejadian”.
Dalam Al-Quran kata fitrah disebutkan dalam surat Ar-Rum: 30 sebagai berikut:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Dalam hadits juga disebutkan kata fitrah yang banyak disitir oleh para ulama yang berbeda-beda matannya yaitu:
Tiap-tiap anak dilahirkan diatas fitrah, maka ibu-bapaknyalah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani dan majusi.
Bila disimpulkan dari Al-quran dan hadits tersebut dapat diambil pengertian bahwa fitrah tersebut mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham nativisme. Oleh karena kata “fitrah” mengandung makna “kejadian” yang didalamnya mengandung potensi dasar beragama yang benar dan lurus yaitu islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapapun atau lingkungan apapun, karena fitrah tersebut merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan sedikitpun.
Jika berdasarkan keterangan diatas, maka ilmu pendidikan islam bisa dikatakan berpaham nativisme yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidupnya secara mutlak di tentukan oleh potensi dasarnya. Paham ini berasal dari pandangan Lomrosso seorang ahli pikir italia dan Scopenheuer yang berkebangsaan jerman.[5]
Namun dalam ayat surat An-Nahl ayat 78:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Di jelaskan bahwa arti fitrah tersebut mengandung kecenderungan yang netral, yang menurut Dr. Moh. Fadhil Al-Djamaly, firman Allah diatas menjadi petunjuk bahwa kita harus melakukan usaha pendidikan aspek eksternal (mempengaruhi dari luar diri anak didik). Dan dengankemampuan yang ada dalam diri anak didik yang menumbuhkan dan mengembangkan keterbukaan diri terhadap pengaruh eksternal (dari luar) yang bersumber dari fitrah itulah maka pendidikan secara operasional adalah bersifat hidayah (menunjukan).[6]

C.     Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia
Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain, memikirkan dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan: perkembangan manusia itu bergantung pada pembawaan ataukah lingkungan?
Seperti yang telah kita singgung dalam pembahasan yang lalu mengenai hal ini ada beberapa pendapat, yaitu:
1.      Aliran Nativisme
Aliran ini perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan inilah yang menetukan hasil perkembangannya. Menurut pendapat ini, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi jika benar, berarti percumalah kita mendidik dan dididik atau kata lainnya berarti pendidikan tidak perlu sama sekali. Dalam ilmun pendidikan, hal ini disebut pesimisme pedagogis.
2.      Aliran Naturalisme
Nature artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Sebenarnya pendapatnya hampir senada dengan aliran nativisme, jika aliran ini berpendapat bahwa pada hakikatnya semua anak sejak dilahirkan adalah baik. Namun bagaimana hasil perkembangannya ditentukan oleh pendidikan yang diterimanya. Jika baik maka baiklah ia namun jika jelek maka jeleklah ia. Oleh karena itu, sebagai pendidik Rosseau mengajukan “pendidikan alam”. Artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri tanpa dicampuri oleh manusia.
3.      Aliran Empirisme
Aliran ini berlawanan pendapat dengan aliran nativisme karena berpendapat bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan atau oleh pendidikan dan pengalamk yang diterimanya sejak kecil. Manusia dapat dididik menjadi apa saja tergantung lingkungan atau pendidikannya. Dalam ilmu pendidikan, pendapat kaum empiris terkenal dengan nama optimisme pedagogis.
4.      Aliran Konvergensi
Hukum ini berasal dari ahli ilmu jiwa berkebangsaan jerman yang bernama william stern. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan itu sama-sama berperan dalam perkembangan manusia.[7]
IV.      Kesimpulan
Manusia merupakan salah satu makhluk Allah yang paling sempurna dan juga makhluk yang di tugaskan Allah sebagai khalifah di bumi. Untuk itulah kenapa manusia di beri fitrah sejak lahir di dunia. Itu adalah salah satu faktor yang akan membantu manusia untuk menjalani hidup di bumi.
Namun jika tidak di asah dan di latih maka fitrah tersebut tidaklah akan berkembang sesuai dengan semestinya. Untuk itulah mengapa manusia membutuhkan pendidikan, karena untuk mengembangkan fitrah yang di berikan Allah agar bisa menjadi khalifah di bumi.
V.         Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Semoga dari pebuatan kecil ini dapat menginspirasikan kita semua untuk terus berlomba dalam hal kebaikan, terus beramal dengan niat tulus dan ikhlas, karena dan untuk allah.
Kami tentunya menyadari masih ada banyak kekurangan dalam makalah ini, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca sangat kami nantikan demi terciptanya makalah yang lebih baik pada edisi makalah yang selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Daftar Pustaka
Abdullah, Abdur Rahman Shalih, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Quran, Bandung: CV. Diponegoro, 1991
Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000
Daradjat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2011
Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995
Sudiyono, M., Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, Jakarta: Rineka Cipta, 2009



[1] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hlm. 1-2
[2] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 4-9
[3] Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Quran, (Bandung: CV. Diponegoro, 1991), hlm. 68-69
[4] H. M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam Jilid 1, (Jakarta: rineka cipta, 2009), hlm. 1-2
[5] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hlm. 89-90.
[6] H. M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 140-141.
[7] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995), hlm. 59-60.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar